SEMINARI MERTOYUDAN : Sekolah Pencetak Para Imam Katolik dan Tempat Lahirnya Korps Bhayangkara



Sepanjang awal abad ke-20 kegiatan zending Kristiani dan misi Katolik berlangsung sangat masif di wilayah Kedu. Menariknya, keduanya juga memiliki bidang pekerjaan yang saling beririsan dalam menjalankan pekabaran iman kristiani di kalangan masyarakat Jawa. Baik zending dan misi sama - sama membuka banyak layanan kesehatan dan pendidikan di wilayah kerja mereka masing - masing. Salah satu wujud nyata keseriusan para rohaniawan Katolik untuk menggarap tanah Jawa sebagai ladang misi adalah dengan didirikannya Sekolah Seminari Mertoyudan di Magelang.
Sebelum resmi beroperasi sebagai sekolah seminari pada 1941, jejak perintisan sekolah ini sudah dimulai kurang lebih sejak 30 tahun sebelumnya. Kemunculan Sekolah Seminari Menengah Mertoyudan tentunya tidak terlepas dari dua orang rohaniawan bumiputra lulusan Kweekschool Muntilan, yakni Petrus Darmaseputra dan F.X Satiman. Keduanya pada bulan November 1911 menghadap Romo van Lith dan Mertens untuk bisa diperkenankan dididik sebagai rohaniawan.
Atas permintaan keduanya itu, maka ide untuk mendirikan sebuah institusi pendidikan bagi para rohaniwan pun muncul. Izin resmi dari Roma terbit pada 30 Mei 1912 yang mana kurus tersebut diselenggarakan di Kolese Xaverius Muntilan dengan nama Seminari Tinggi St. Paulus.
Pada bulan Mei 1925 sebuah Klein Seminarie (Seminari Kecil) tingkat menengah dibangun di sebelah barat Kolese St. Ignatius Yogyakarta dengan nama Seminari Canisius. Mereka yang ingin belajar di seminari ini diwajibkan harus tamat terlebih dahulu dari sekolah tingkat rendah seperti Hollandsche Inlandsche School (HIS) dan Europesche Lagere School (ELS).
Pada tahun 1936 beberapa siswa lulusan dari Seminari Menengah St. Canisius ingin melanjutkan ke Seminari Tinggi St. Paulus di Muntilan. Jumlah seminaris utama tersebut kian meningkat pesat hingga awal tahun ajaran 1938 - 1939, sehingga mustahil bagi mereka untuk tinggal di Seminari Tinggi di Muntilan. Maka dari itu Kolese Xaverius Muntilan dengan Seminari St. Paulus dan Seminari St. Canisius di Kolese St. Ignatius Yogyakarta direorganisasi karena alasan tersebut.
Sebidang tanah dibeli yang jaraknya sekitar 5 Km di Selatan Magelang. Di desa Mertoyudan sebuah Seminari Menengah dibangun untuk menjawab permasalahan tersebut. Sehingga Seminari Tinggi yang dulu ada di Muntilan harus dipindahkan ke Yogyakarta. Pembangunan kompleks sekolah Seminari Mertoyudan ini dirancang oleh Bouwbearou H. Pluyter, seorang arsitek kawakan yang berdomisili di Magelang. Peletakan batu pertama Sekolah Seminari Mertoyudan dilaksanakan pada bulan April 1940 oleh para romo dan sang arsitek H. Pluyter. Kompleks Sekolah Seminari Menengah St. Paulus Mertoyudan rampung pada Januari 1941.
Perpindahan para seminaris, staf formator, dan perlengkapan serta perkakas Seminari Menengah dari Yogyakarta ini dilaksanakan dengan luar biasa. Pihak sekolah menyewa 23 gerbong kereta NIS untuk memboyong semua sarana dan prasarana sekolah ke Magelang. Kemungkinan para rombongan siswa dan staff beserta barang - barang sekolah diturunkan di Stasiun Mertoyudan dan membawanya ke lokasi sekolah yang baru ini. Kegiatan pelajaran sebagai penanda tahun ajaran baru dimulai pada 13 Januari 1941.
Sayangnya, umur seminari baru ini tak berlangsung lama. Pada 8 Maret 1942, Jepang menduduki Seminari Mertoyudan dan sekolah ini dialih fungsikan menjadi Sekolah Pertanian Nogako. Konon, Seminari ini juga pernah dijadikan sebagai Kamp Interneer Jepang bagi para warga Eropa. Pada 5 April 1942, para seminaris pun dipulangkan ke daerah masing - masing. Pasca kekalahan Jepang pada 1945, gedung seminari pernah juga di jadikan markas bagi Tentara Keamanan Rakyat (TKR).
Memasuki masa bersiap, gedung sekolah pernah dijadikan Sekolah Kepolisian Negara (SPN) pada 17 Juni 1946 oleh Kabinet Syahrir. Gedung Seminari pada waktu itu digunakan sebagai Sekolah Inspektur Polisi dan Akademi Polisi, Sekolah Komandan Inspestur Polisi (CI), Sekolah Komandan Reserse Polisi dan Sekolah Agen Polisi. Dua pekan setelah didirikan, pada 1 Juli 1946 Djawatan Kepolisian Negara sebagai cikal bakal POLRI dibentuk. Maka setiap tanggal inilah POLRI memperingati hari lahirnya, Hari Bhayangkara. POLRI menempati gedung Seminari Mertoyudan ini hingga 18 Desember 1948 sebelum Clash II terjadi. Sebagai catatan Salah satu angkatan pertama lulusan dari SPN Mertoyudan ini adalah Pak Hoegoeng.
Selama masa Agresi Militer Belanda II, Seminari Mertoyudan sempat dibumi hanguskan oleh para republikan dan banyak sisa bangunannya yang ikut dijarah. Setelah penyerahan kedaulatan pada tahun 1949, Seminari Menengah Mertoyudan dibangun kembali oleh Vikariat Semarang dan selesai pembangunannya pada Agustus 1952. Seminari Mertoyudan sampai sekarang masih aktif dan melanjutkan misinya mendidik para calon imam Katolik.

Komentar