SEKOLAH KEPANDAIAN PUTRI DAN ASRAMA MENDUT : Kepakan Sayap Dara - Dara Mendut


Sebelum berdiri sebuah Sekolah Putri di Mendut, kawasan misi diantara Magelang dan Yogyakarta ini terlebih dahulu dibentuk oleh Pastor Hoevenaars yang berkarya di sana antara tahun 1899 - 1905. Berkat kegigihan sang pastor dalam mengabarkan iman kristiani, beliau berhasil membentuk sebuah komunitas kecil yang terdiri atas sekitar 300an umat Katolik. Di Mendut ini, Pastor Hoevenaars mendirikan kursus - kursus kepandaian putri seperti menjahit, membatik dan prakarya bagi perempuan - perempuan desa.
Ketika Pastur Hoevenaars dipindahkan ke Bandung pada 1905, pengelolaan area misi di Mendut diserahkan kepada Romo van Lith. Dibawah naungan Romo van Lith, pada 14 Januari 1908 pelatihan kepandaian putri ini kedatangan empat orang suster dari tarekat Fransiskansen van Heiythuizen yang sudah lama berkarya di Semarang dan Magelang. Pada awal pendirian kursus kepandaian putri ini, para suster harus menempati sebuah rumah mungil di barat Candi Mendut persis di bantaran Kali Ello yang bernama Nazareth.
Bisa dibayangkan betapa mencoloknya para suster Mendut ini pada waktu itu dimana kawasan tersebut masih sangat sepi dan persis berada di tengah - tengah lingukungan perkampungan warga. Namun, segala halangan dan kesulitan pada masa awal kedatangan mereka berhasil diatasi dengan baik oleh para suster sehingga adaptasi budaya dan komunikasi dengan penduduk yang berbahasa jawa bisa terjembatani dengan baik. Tepat satu bulan setelah kedatangan mereka, yaitu pada 14 Februari 1908 para suster Fransiskansen ini mulai aktif mengajarkan keterampilan kepada gadis - gadis Jawa di Mendut. Bahkan ada diantaranya gadis Tionghoa yang meminta pelajaran agama.
Pada 1 Mei tahun itu, siswi - siswi pertama Sekolah Kepandaian Putri Mendut memutuskan untuk ikut tinggal disekolah atau mondok. Murid pertama yang berasrama di sana adalah anak perempuan dari Wedono Muntilan dan anak perempuan dari kusir sang Wedono. Hingga akhir tahun 1908, setidaknya sudah terdapat tujuhbelas gadis yang bersekolah disana. Seiring dengan semakin bertambahnya jumlah siswi yang berasrama di sana, maka sekolah yang juga tempat tinggal para suster dan pengasuh yang dulunya bernama Nazareth pun berubah menjadi Kostschool (Asrama Mendut).
Pembelajaran yang pada awalnya hanya berupa kecakapan dan keterampilan mulai ditambah dengan pelajaran formal. Tidak lain pemberian pelajaran formal ini adalah dalam rangka untuk mempersiapkan para siswi lulusan Asrama Mendut untuk bisa bekerja dan berguna bagi masyarakat. Uniknya, pembelajaran agama baru diberikan belakangan, yaitu pada 1 Maret 1909 setelah pelajaran ilmu modern sudah lebih dulu berjalan.
Pada 1910, Sekolah Kepandaian ini pernah di datangi secara khusus oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda. Hal ini merupakan sebuah tanda dukungan yang positif dari pemerintah kolonial bagi misi Katolik di Jawa. Pasca kunjungannya itu tercatat bahwa pada tahun 1915 pemerintah kolonial memberikan subsidi pendidikan bagi para suster berprestasi. Kemudian berkat kegigihan Romo van Lith, pada 1920 Frobel Hollandsche Indlandsche Kweekschool (HIK) - Sekolah Pendidikan Sekolah Dasar berhasil berdiri. Satu tahun berselang, pada 1921 subsidi diberikan kembali oleh pemerintah kolonial untuk HIS dan Frobelkweekschool Mendut.
Karena segudang prestasi yang terus berhasil diraih para lulusan Sekolah Asrama Mendut, maka acap kali pemerintah kolonial mengirimkan kepala - kepala sekolah dari sekolah lain yang ada di Hindia Belanda untuk melakukan studi banding ke Asrama Mendut guna membangun sekolah perempuan serupa di daerahnya.
Ketika Romo van Lith meninggal pada 1926, sekolah yang dulu ia rintis dengan penuh keprihatinan sudah berubah menjadi sebuah lembaga sekolah yang memiliki fasilitas lengkap dengan kualitas lulusan yang bisa dibanggakan. Setidaknya terdapat 324 total siswi di Sekolah Mendut dengan rincian 240 siswi sekolah HIS, 68 siswi Frobelkweekschool dan 12 siswi Huishoudschool. Banyak diantara lulusan Asrama Mendut ini yang lulus ujian pegawai negeri dan berhasil menjadi guru diberbagai sekolah seperti HIS Magelang, Madiun, Semarang dan Purworejo.
Sayangnya ketika Jepang datang pada Maret 1942, Asrama Putri Mendut harus ditutup dan pada saat Clash II pada 1948 bangunan sekolah turut dibakar sebagai bagian dari taktik bumi hangus. Sekarang sisa - sisa kejayaan Asrama Putri Mendut ini hanya sebuah gerbang samping sekolah yang sekarang menjadi gapura jalan masuk kampung.

Komentar