DIMANA ADA KEMAUAN PASTI ADA JALAN : Kisah Hidup J.M.J van Eijck, Jasa Seorang Jerman bagi Magelang

Foto : Manusje van Alles tahun 1910, KITLV

Mungkin bagi warga Magelang sekarang, nama J.MJ van Eijck dirasa aneh dan asing di telinga. Nama yang tidak familiar ini sebenarnya merupakan tokoh yang cukup berjasa dan terkenal di Magelang pada masa kolonial dulu. Kisah hidupnya yang luar biasa dan menarik pernah ia sampaikan dalam sebuah wawancara eksklusif dengan surat kabar de Locomotief pada Mei 1930.
Johann Julius Maria van Eijck atau biasa dipanggil Tuan van Eijck adalah seorang pria asal Rheinland, Jerman yang lahir pada 1866. Beliau memiliki riwayat hidup yang mencengangkan untuk ukuran orang Jerman yang mau menetap di Magelang. Sebagai seorang pensiunan tentara, beliau dikenal sebagai veteran yang pernah ikut terjun dalam operasi militer di Aceh, pengusaha toko kelontong sukses, bankir, dan politisi ulung di Magelang.
Tuan van Eijck pertama kali menjejakkan kakinya di Hindia Belanda pada 16 Mei 1885 ketika usianya masih 19 tahun dengan menaiki kapal Prins Hendrik sebagai seorang serdadu KNIL Belanda. Sebelum ia pergi ke Hindia, tuan van Eijck sudah terlebih dahulu menghabiskan waktunya untuk berlatih selama dua tahun di kamp pelatihan tentara KNIL di Benteng “de Bilt” dekat Utrecht, Belanda.
Selama masa - masa awalnya tinggal di Hindia, Tuan van Eijck bersekolah di kaderschool Mesteer Cornelis, Batavia untuk menjadi seorang sersan. Selama masa pendidikannya, ia tercatat pernah terserang penyakit yang hampir membuatnya mati. Maka dari itu, untuk memperbaiki kesehatannya, van Eijck muda dipindahkan ke Sindanglaya dan setelah ia berhasil pulih kembali pada 1887 dipindah tugaskan ke Palembang. Van Eijck harus tinggal selama tiga tahun dengan kondisi yang memprihatinkan dan gaji yang sangat kecil ketika disana. Ia menceritakan untuk seorang sersan yang bertugas di Palembang, ia hanya mendapatkan fasilitas berupa sebuah ruangan kecil dengan ransum berupa beras, cuka, kayu bakar dan gaji sebesar 90 sen.
Pada 1890, Tuan van Eijck dipindahkan ke Semarang dengan kenaikan pangkat. Namun sayangnya, di tahun tersebut ia terserang malaria dan harus cuti pulang selama sembilan bulan di Eropa. Ketika ia kembali ke Hindia, ia mendapat perintah untuk terjun ke medan laga akbar, Perang Aceh. Ia bercerita selama tugasnya di Aceh, van Eijck pernah bertemu langsung dengan Teuku Umar dan selama tiga bulan bersamanya disana. Setelah tugas di Aceh selesai, ia pulang lagi ke Jawa dan sempat berpindah - pindah kota sebelum akhirnya pada 1900 ia memutuskan untuk menetap di Magelang. Tuan van Eijck pensiun dari dinas kemiliteran pada 1905 dengan pangkat terakhir sebagai seorang letnan.
Diakhir masa pensiunnya, Tuan van Eijck sudah mulai memikirkan masa depannya di Hindia dan memutuskan untuk tinggal di Magelang sepanjang sisa umurnya. Pada 1906 tuan van Eijck memberanikan diri untuk menjadi agen resmi Escompto Bank di Magelang. Escompto Magelang secara resmi berdiri pada hari Minggu 1 Januari 1907 dan melayani nasabahnya pada hari Senin tanggal 2 Januari. Semua itu bisa terjadi berkat koneksinya yang luas dengan berbagai kalangan sehingga ia bisa menjadi agen resmi Escomptobank. Tuan van Eijck terus menjabat sebagai agen resmi Escomptobank di Magelang selama kurang lebih 25 tahun dan pada tahun 1928 ia meminta untuk mengundurkan diri karena alasan kesehatan. Sebagai gantinya, cabang resmi Escompto Bank Magelang berdiri pada 1 Januari 1929 dan Tuan van Eijck dijadikan dewan penasehat Escomptobank Magelang hingga akhir hayatnya.
Selain kiprahnya di dunia moneter Magelang, Tuan van Eijck juga dikenal sebagai seorang pengusaha (entrepreneur) yang handal. Hal tersebut bermula ketika ia ditawari untuk membeli toko kelontong N.V “P.M. Johannes” milik Paulus (Paul) Minas Johannes Amir Khan, seorang warga Armenia. Toko tersebut ia dapatkan pada Agustus 1907 setelah sang pemilik toko, Tuan Paul Johannes dan rekannya Tuan G.J van Bijlevelt yang juga seorang anggota dewan kotapraja, memutuskan untuk pecah kongsi dan tidak lagi melanjutkan usahanya.
Kisah Tuan van Eijck cukup menarik ketika ia mendapatkan bekas bangunan Toko P.M. Johannes ini. Berdasarkan penuturannya, ia mendaptkan kabar penawaran Toko tersebut pada pukul 11 siang. Negosiasi berlangsung dengan sangat cepat sehingga pada pukul 14.00 semua barang yang ada di NV Toko Johannes sudah bisa diinventarisir. Lima hari kemudian, Toko van Eijck, Manusje van Alles sudah resmi dibuka.
Sistem pembayaran akuisisi toko dilakukan dengan cara cicilan sebanyak 26 kali dengan bunga jika terlambat membayar sampai selambat - lambatnya pada 1 Oktober 1909. Dari tahun 1907 - 1909, sang pemilik toko awal, Tuan Paul Johannes diperkirakan masih membantu J.M.J van Eijck dalam mengurus Toko Manusje van Alles hingga keberangkatannya ke Belanda untuk berobat pada 1 Juli 1909.
Toko Manusje van Alles menjual berbagai macam barang seperti diantaranya, jam tangan emas, semir sepatu, gaun sutra wanita, daging asin, dan peralatan militer seperti seragam. Bahkan menurut surat kabar Het niewus van den dag voor Nederlandsch Indie terbit pada 16 Maret 1905, tuan van Eijck pernah memasok helm model terbaru bagi kalangan militer di Magelang. Selain itu, Tuan van Eijck juga mendapatkan sebidang tanah dibelakang bangunan toko yang cukup luas yang ia beri nama seperti namanya sendiri yaitu Van Eijck Park. Taman itu cukup terkenal bagi warga Magelang pada zamannya.
Terlepas dari hari - harinya yang sibuk sebagai seorang bankir dan pemilik toko, tuan Van Eijck masih menyempatkan dirinya untuk berkontribusi bagi perkembangan dan kemajuan kota. Tercatat beliau pernah menjabat sebagai anggota dewan kota selama delapan tahun berturut - turut dan tiga tahun masuk dalam dewan regional.
Selama peridoe jabatannya berbagai macam infrastruktur kota dibangun sehingga merubah Magelang menjadi salah satu wajah kota kecil yang cukup modern dan layak dihuni. Contoh prestasi Tuan van Eijck sebagai seorang politisi diantaranya inisiator pembangunan Abattoir (rumah jagal) yang sehat dan higienis di dekat Pasar Rejowinangun, Pembangunan saluran air kota untuk mencegah pandemi kolera parah seperti yang pernah terjadi pada 1902, penataan dan peremajaan Europeesche Begraafplaats (pemakaman orang eropa) yang kotor dan tak terurus, penataan pasar malam Magelang serta pembuatan air mancur di tengah alun - alun. Bukti ampuhnya lobi - lobi politik Tuan van Eijck lainnya adalah keberhasilannya pemerintah Kotapraja Magelang menjadi pemerintah kota pertama di Hindia Belanda yang berhasil mendapatkan dana pinjaman sebesar NLG 20.000 dari pemerintah Hindia Belanda hanya dalam waktu delapan hari saja!
Dibidang kesenian, Tuan van Eijck juga salah satu tokoh dibalik jayanya kelompok teater “Thalia”. Tercatat beliau juga berjasa dalam sentralisasi asosiasi regional Java Motor Club dan salah satu dedengkot klub motor terbesar di Jawa itu.
Tuan J.M.J van Eijck meninggal pada bulan Januari 1931 dikediamannya pada usia 65 tahun. Berbagai kalangan hadir dihari pemakamannya diantara hadirin yang hadir termasuk Residen Kedu, Tuan van Pelt, Walikota Magelang, Nessel van Lissa, komandan resimen, Kolonel Boeije, Mayor Reeman dan Debüs, kepala staf, Kapten Du Croo, Kapitan Cina Mr. D.G. Lee, dan banyak lainnya. Upacara pemakamannya juga dihadiri agamawan seperti Pastor Sondaal dan Pa van der Steur.
J.M.J van Eijck meninggalkan seorang Istri berdarah Indo, Cecilia Hijke Francine Ehrencron dan dua orang putra yang keduanya berkarir di kemiliteran. Toko Manusje van Alles akhirnya dijual termasuk monumen hidupnya, van Eijck Park, pada tahun tersebut. Sampai akhir hayatnya ia tetap seorang Jerman yang tidak mau merubah status kewarganegaraanya.
Sumber : Imexbo.nl
Surat kabar De Sumatra post terbit 23-05-1930
Surat Kabar Bataviaasch nieuwsblad terbit 08-01-1931
Surat Kabar De Sumatra post
terbit 12-01-1931
Surat Kabar De Sumatra post
terbit 02-01-1931
Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië terbit 16-03-1905


Komentar