NIROM - Maskapai Radio Siaran Hindia Belanda

 Menyatukan Tanah Hindia di Hari Ulang Tahun Pa



“Wij sluiten nu.Vaarwel, tot betere tijden. Leve de Koningin!”
- Kami akhiri sekarang. Selamat berpisah sampai waktu yang lebih baik. Hidup Sang Ratu! -

Itulah ucapan salam perpisahan penyiar Nederlandsch Indische Radio Omroep Maatschappij (NIROM) dalam siaran resmi terakhirnya pada 8 Maret 1942. Tepat sehari sebelum kapitulasi Pemerintah Kolonial Hindia Belanda di Kalijati, Subang pada Balatentara Kekaisaran Jepang 9 Maret 1942.
Jika dilihat dari sejarahnya, NIROM pertama kali didirikan di Kota Amsterdam pada 1928 dengan maksud untuk menangani pemancaran siaran ke seluruh Jawa. Dalam jangka waktu tiga tahun, ekspansi cakupan siarannya sudah bisa dinikmati di seluruh Jawa. Pada bulan Desember 1931, NIROM sudah memulai siaran percobaan walaupun dengan banyak kekurangan disana - sini seperti lambatnya penerimaan saluran. Baru pada 1934, NIROM mulai dapat secara penuh memancarkan siarannya secara perdana di Hindia Belanda.
Pada mulanya NIROM hanya melakukan siaran dalam bahasa Belanda, namun sejak 1935, siaran-siarannya sudah mulai menggunakan bahasa-bahasa daerah hingga akhir masa siaran NIROM pada Maret 1942. Agresifitas NIROM yang pesat itu tidak lain disebabkan karena masifnya keuntungan yang didapat dari "pajak radio". Dengan semakin banyaknya pesawat radio yang terjual dikalangan masyarakat, maka semakin besar pula pundi - pundi keuangan yang diterima oleh NIROM.
Keuntungan yang berlipat ganda itu dengan cerdik digunakan NIROM untuk terus meningkatkan daya pancarnya dengan berbagai macam program seperti mendirikan stasiun-stasiun relay, mengadakan sambungan telepon khusus dengan kota-kota besar, dll. Salah satu Kota di Hindia Belanda yang memiliki saluran telepon khusus NIROM adalah Magelang. Selain itu, saluran NIROM juga sudah dibangun dibeberapa kota lain seperti Batavia, Bogor, Sukabumi, Bandung, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Solo, Yogykarta, Surabaya, Tangerang, Depok, Bekasi, dan Malang.
Dengan bentangan saluran telepon modulasi yang memiliki panjang hingga mencapai 1,2 juta meter, NIROM mampu mengadakan siaran sentral dari berbagai kota besar di Jawa seperti Semarang, Bandung, Surabaya, Yogyakarta ataupun Solo.
Berdasarkan surat kabar Bataviaasch nieuwsblad, Stasiun NIROM di Magelang secara resmi dibuka pada bulan 2 Oktober 1938. Acara persmian tersebut secara resmi dibuka oleh Walikota Nessel van Lisa di hadapan para tamu kehormatan seperti Komandan Divisi Garnisun Magelang Jenderal Ilgen, Bupati Magelang R.A.A. Danoesoegondo dan perwakilan dari NIROM sendiri. Namun kiprah NIROM di Magelang sudah dimulai sejak tiga tahun sebelumnya yaitu pada 1935.

Sebelum memiliki stasiun pemancar sendiri di Magelang, NIROM sudah sangat berjasa dalam menyatukan hati masyarakat baik di koloni Hindia maupun negeri induk Belanda dalam perayaan ulang tahun ke-70 yang penuh kekhidmatan dari tokoh kemanusian terkenal Johannes van der Steur (Pa van der Steur).
Dibawah sorotan lampu penerangan ANIEM pada 10 Juli 1935, tepat pukul 19.00 di alun - alun Magelang, Walikota Magelang Ir. Nessel van Lisa membuka acara perayaan ulang tahun Pa ke-70. Acara tersebut diikuti oleh kurang lebih 1000 anak - anak panti asuhan “Oranje Nasaau” milik Pa van der Steur yang dalam kesempatan itu memberikan persembahan lagu spesial kepada Sang Bapak asuh.
Bersama dengan ribuan penduduk Magelang yang datang langsung memenuhi alun - alun, puluhan atau bahkan jutaan orang lainnya pun ikut larut menyimak siaran langsung peringatan ulang tahun Pa ke-70 itu via radio. Tak kurang dari 500km saluran telepon membentang dari Magelang hingga Batavia yang mana selanjutnya siaran itu dipancarkan ulang ke seluruh stasiun NIROM.
Berkat Phohi dan N.C.R.V. (Penyiar Radio Kristen Belanda) bukan hanya para masyarakat awam dan para alumnus Panti Asuhan “Oranje Nassau” di Hindia Belanda saja yang bisa mengikuti siaran tersebut, bahkan para pendengar yang tinggal di negeri Belanda pun dapat mengikuti siaran tersebut. Acara perayaan ulang tahun yang spesial itu diakhiri dengan defile militer dari Garnisun Militer Magelang.
NIROM dalam hal ini sudah menunjukan sumbangsihnya bukan hanya pada Pa dan masyarakat Magelang saja, namun juga sudah bisa menyatukan rakyat Hindia dan negeri Belanda lewat siaran khidmat perayaan ulang tahun sang pejuang kemanusiaan.
- Chandra Gusta W -

Komentar