JUBILEUM 100 TAHUN KEMERDEKAAN BELANDA

Belanda yang Merdeka, Magelang yang Merayakan



Pada bulan November 1913, sebuah gerbang besar telah terpasang di depan Rumah Bupati Magelang (Regentswoning), Raden Adipati Ario Danusugondo tepat di samping kawasan Alun - Alun. Sebuah gapura dengan pintu raksasa melengkung ditengahnya yang ditambah dua pintu kecil di kanan dan kirinya gagah menghadap barat ke arah Gunung Sumbing. Hiasan berupa bendera triwarna menancap dipuncak menara gerbang dengan tambahan angka 1813 dibagian kanan dan 1913 dibagian kiri dinding gerbang. Ada apakah gerangan?


Gerbang megah itu tidak lain adalah sebuah monumen peringatan 100 tahun (jubileum) kemerdekaan Belanda atas Perancis yang juga bertepatan dengan ditasbihkannya William I Prins van Orange Nassau sebagai Raja Belanda Pertama pada 30 November 1813. Penobatan William I sebagai Raja Belanda pertama tidak lain dilatar belakangi oleh kekalahan pasukan Napoleon di Liepzig pada bulan Oktober 1813 oleh pasukan Prusia Jerman, sehingga seluruh pasukan Perancis yang tersebar di dataran Eropa ditarik mundur ke Perancis.



Hal yang cukup menarik juga, bahwa pada tanggal yang sama ketika Willem I mengangkat dirinya sendiri sebagai Raja Belanda pertama, yaitu pada 30 November 1813, Alwi bin Said Abdar Rahim Bach Chaiban juga diangkat oleh Sir Thomas Stamford Raffles sebagai bupati pertama Magelang dengan gelar Mas Ngabehi Danukromo. Sehingga tidak berlebihan juga jika gapura besar Jubileum 100 tahun kemerdekaan Belanda itu dipasang di depan Rumah Bupati Magelang.



Namun yang jelas, peringatan 100 tahun kemerdekaan Belanda atas Perancis yang besar - besaran itu juga mendapatkan kritik pedas dari Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hajar Dewantara dengan menulis sebuah artikel di surat kabar de Express pada 13 Juni 1913. Artikel yang berjudul “Als Ik Eens Nederlander was - Andai Aku Seorang Belanda” tersebut harus membuatnya dihukum oleh pemerintah kolonial bersama dengan kawanya seperti Abdul Muis yang telah mengalih bahasakan tulisannya ke dalam Bahasa Melayu. Dalam penggalan paragraf terakhir artikelnya itu Ki Hajar menuliskan,

“Tidak, sekali - kali tidak, kalau saya seorang Belanda, saya tidak akan merayakan jubileum seperti itu disini dalam suatu negeri yang kita jajah. Beri dahulu bangsa yang terjajah itu kemerdekaanya, barulah merayakan kemerdekaan itu sendiri.”

- Chandra Gusta W -

Sumber Foto : KITLV

Komentar